Minggu, 31 Maret 2013

Belajar dari Negeri Sakura

Pada acara pembukaan Rapat Kerja Nasional Forum Komunikasi Alumni ESQ (RAKERNAS FKA ESQ) tanggal 18 Maret 2011, Dr. Ary Ginanjar menyampaikan sebuah pengantar yang sangat indah tentang bagaimana karakter manusia yang baik, khususnya karakter masyarakat Jepang yang kemudian menjadi sorotan dunia pasca bencana alam.


Seperti yang kita ketahui bersama gempa di laut Jepang berskala 9 skala ritcher yang disertai tsunami telah meluluh lantakan Miyagi-ken, Iwate, Fukushima, Niigata, Sendai dan Okinawa. Tak hanya itu, akibat dari gempa juga mengakibatkan terbakarnya kilang minyak di Ichinara serta meledaknya reaktor pembangkit listrik tenaga nukir di Fukushima. Ribuan orang meninggal dunia dan jutaan lainnya kini terlunta-lunta. Mereka bertahan hidup tanpa rumah, kekurangan air bersih, serta kekurangan pangan dan obat-obatan.

Dalam materi yang disampaikannya, Dr. Ary Ginanjar menggambarkan bahwa karakter moral masyarakat Jepang begitu kuatnya bahkan dalam kondisi yang serba terbatas sekalipun, sama sekali tidak ada huru-hara ataupun penjarahan, masyarakat tetap mengantri untuk mendapatkan apapun, bahkan semua super market menurunkan harga guna meringankan beban masyarakat.

Berbeda dengan bencana di sejumlah negara, seperti pasca gempa dahsyat di Haiti dan Chili, pasca banjir besar di Inggris 2007, dan pasca badai Katrina di Amerika Serikat. Di empat negara ini, seluruh warganya menjarah bahan pangan untuk bertahan hidup.

Kondisi semacam inilah yang menjadi perhatian dunia, begitu kokohnya moralitas masyarakat Jepang bahkan di tengah bencana, bisa jadi ini merupakan budaya Jepang yang sudah tertanam begitu dalam di alam bawah sadar mereka. Ada nilai-nilai yang tetap dijalankan dan dipertahankan dalam kondisi apapun.
Budaya serta pembentukan karakter masyarakat Jepang tidak terbentuk secara instan atau tiba-tiba, ada sebuah proses panjang yang secara konsisten dijalankan dan dipertahankan dari masa ke masa serta diturunkan terus menerus kepada anak cucu. Karakter masyarakat pertama kali dibentuk dan diperkenalkan oleh para kaum samurai melalui sebuah disiplin moral yang disebut Bushido.

Sebagai sebuah disiplin samurai, Bushido terbagi menjadi 2 periode yaitu Hagakure Bushido dan Tokugawa Bushido. Namun dari kedua periode tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa inti moral Bushido adalah sebagai berikut :
1.  Gi (Integritas) = Seorang samurai harus utuh segala aspek kehidupannya baik fikiran, perkataan, maupun perbuatan.
2.  Yu (Keberanian) = Berani untuk mempertahankan prinsip kebenaran, bahkan jika harus mengorbankan nyawa sekalipun.
3.  Jin (Kemurahan hati) = Bushido memiliki aspek keseimbangan antara maskulin (yin) dan feminim (yan), Jin inilah yang mewakili sifat feminim. Walau seorang samurai berlatih pedang dan strategi perang, namun samurai harus memiliki sifat mencintai sesama, kasih sayang, dan peduli.
4.  Rei (Menghormati) = Menghormati ini ditunjukkan melalui kesantunan dalam cara duduk, berbicara, bahkan dalam memperlakukan benda ataupun senjata.
5.  Makoto atau Shin (Kejujuran dan tulus-iklas) = Samurai mengatakan apa yang mereka maksudkan dan melakukan apa yang mereka katakan. Mereka membuat janji dan berani menepatinya.
6.  Meiyo (Kehormatan) = Seorang samurai memiliki harga diri tinggi, yang selalu mereka jaga dengan berperilaku terhormat.
7.  Chugo (Loyal) = Kesetiaan ditunjukkan dengan dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas, dan puncak kehormatan seorang samurai adalah mati dalam menjalankan tugas/perjuangan.
8. Tei (Menghormati Orang Tua) = Samurai sangat menghormati orang yang lebih tua baik orang tua sendiri, pimpinan, maupun para leluhurnya.

Jika diperhatikan lebih dalam, disiplin Bushido ini adalah ajaran yang bersifat universal (dapat diterima oleh seluruh umat manusia) dan pada umumnya dianut oleh masyarakat timur (Eastern ethics).
Seorang sahabat bernama Lafolweis memberikan komentar yang sangat dalam di sebuah artikel yang membahas tentang karakter masyarakat Jepang sebagai berikut : Hukum masyarakat yang mengucilkan saya karena perbuatan saya yang tercela. Heran saja Jepang yang negara maju masih memikirkan (apa) pandangan/pendapat orang/masyarakat jika dia berbuat salah, sedangkan kita yang negara berkembang kebanyakan malah berprinsip EGP pendapat orang yang penting saya tidak 'merugikan' orang lain padahal makna kata merugikan sendiri kadang-kadang tidak jelas batasannya. Maka tidak heran jika di Jepang sering kita mendengar orang bunuh diri atau pejabat yang mengundurkan diri jika merasa bersalah, sementara di Indonesia?”

Ada perbedaan yang sangat mencolok antara Indonesia dan Jepang walaupun sama-sama sebagai negara timur dan sama-sama mengusung norma ketimuran. Saya tidak perlu menyebutkan semua perbedaan tersebut, namun satu hal yang saya ingin garis bawahi adalah bahwa starting point pembangunan Jepang dan Indonesia dimulai pada titik yang hampir bersamaan.

Jika Jepang memulai pembangunan pasca hancurnya kota Hiroshima dan Nagasaki oleh bom atom Amerika pada Agustus 1945, Indonesia pun memulai pembangunan pasca kemerdekaannya di Agustus 1945.
Berdasarkan pengamatan saya, bertahannya moral dan karakter masyarakat Jepang tidak terlepas dari peristiwa Meiji Ishin atau yang dikenal juga dengan Restorasi Meiji yang terjadi pada tahun 1866 sampai 1869. Pembaruan ini membawa dampak perubahan yang sangat besar dalam perubahan struktur politik dan sosial Jepang.

Dalam restorasi Jepang ini Meiji mengusung sebuah konsep yang sangat apik yaitu penggabungan antara Eastern ethics and Western science, secara tersirat konsep ini mensinergikan kemajuan berfikir manusia yang tetap mengakar pada moral dan budaya bangsa.

Hal ini tercermin dalam salah satu ucapan Kaisar Meiji (Prince Mutsuhito)  yang sangat terkenal, “I dreamed of a unified Japan. A country strong, independent, and modern... Now we have Railroads, Cannon, and Western clothing. But we cannot forget who we are, or where we come from”.
Zaman boleh berganti, teknologi boleh menjadi lebih canggih, gaya hidup dan perbaikan ekonomi boleh lebih baik, namun karakter moral dan budaya ketimuran harus tetap dipertahankan, inilah perbedaan mendasar antara Jepang dan Indonesia.

Akhir kata, saya mengucapkan duka dan belasungkawa yang sangat mendalam pada saudara kita di Jepang. "Hadapi dan bangkit kembali untuk menata hidup. Hidup adalah perjuangan. Itulah realitas kehidupan bukan?

Sumber : Windmill – Time goes wherever you are


Tidak ada komentar:

Posting Komentar